Buku

Fiqih Al Asma’ Al Husna

Posted On Agustus 6, 2017 at 6:11 am by / No Comments

Jpeg

Judul asli : Fiqih Al Asma’ Al Husna
Penulis :Syaikh DR Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr Fisik: Buku ukuran sedang 24.5x16cm, hardcover, 558 hal
Penerbit : Pustaka Darussunnah
Harga: 105.000

RESENSI:

Sesungguhnya memahami nama Allah yang baik (Asma’ul Husna) merupakan pintu ilmu yang mulia, bahkan ini termasuk Al-Fiqh Al-Akbar (fikih yang paling agung) dan paling utama serta pertama kali yang masuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan atasnya, maka Dia akan memberikan kefahaman kepadanya dalam masalah agama.” (Muttafaq Alaih)
Mempelajari ilmu Asma Al Husna merupakan usaha termulia yang dilakukan oleh setiap jiwa dan sebaik-baiknya apa yang diraih oleh orang-orang yang memiliki kecerdasan akal dan petunjuk. Ilmu ini merupakan fondasi jalan menuju Allah dan jalan masuk yang lurus dalam meraih kecintaan dan keridhaan-Nya serta jalan yang lurus bagi setiap orang yang dicintai dan dipilih-Nya.
Sebagaimana bangunan memiliki fondasi, maka fondasi agama ini adalah iman kepada Allah Ta ‘ala dan kepada nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Jika fondasi ini kuat, maka dia akan dapat memikul bangunannya dengan kuat dan kokoh serta selamat dari guncangan dan kerobohan.
Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang meng-hendaki bangunan yang tinggi, maka diharuskan baginya untuk me-guatkan fondasi dan benar-benar memperhatikannya. Karena ketinggian bangunan tergantung pada kokoh dan kuatnya fondasi. Amal dan derajat adalah bangunan, sedangkan fondasinya adalah iman.
Apabila fondasinya kuat, maka dia akan dapat memikul bangunan dan meninggikannya. Apabila roboh sebagian dari bangunan itu, maka mudah untuk memperbaikinya dan jika fondasi tidak kuat, maka tidak akan tinggi bangunannya dan tidak akan kokoh dan jika roboh sebagian dari fondasi, maka akan jatuh bangunannya atau hampir jatuh. Orang bijak akan memiliki target yaitu membenarkan fondasi dan menguatkannya, sedangkan orang jahil adalah orang yang meninggikan bangunan tanpa fondasi, maka tidak berselang lama bangunannya pun akan roboh.
Allah Ta’ala berfirman,
“Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan(-Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam?” (QS. At-Taubah: 109)
Fondasi bagi bangunan amal seperti kekuatan bagi tubuh manusia. Jika kuat, maka dia dapat membawa badan dengan baik dan menolak segala penyakit. Jika lemah kekuatannya, maka lemah pula dia dalam membawa badannya serta cepat terserang penyakit. Jadikan bangunanmu di atas fondasi iman yang kuat dan jika ada bagian atas atau atapnya yang rusak, maka mudah untuk memperbaikinya daripada kerusakan fondasinya.
Fondasi ini ada dua,
pertama, mengenal Allah, perintah, nama, serta sifat-Nya dengan baik.
Kedua, tunduk dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya.
Inilah sekuat-kuatnya fondasi yang dibangun oleh seorang hamba bagi bangunannya dan sesuai dengan kekuatan fondasi itulah ketinggian suatu bangunan yang dia inginkan.”
Oleh karena itu, banyak sekali dalil di dalam Al-Qur’an yang menguatkan fondasi ini, bahkan hampir-hampir semua ayat tidak pernah lepas dari penyebutan nama Allah dan sifat-Nya. Ini semua menunjukkan dengan jelas tentang pentingnya ilmu yang berkaitan dengan nama dan sifat Allah serta kebutuhan yang mendesak untuk mengenalnya. Bagaimana dia tidak menempati kedudukan yang tinggi ini, sedangkan dia adalah tujuan utama diciptakannya semua manusia.

Sms/wa: 085 312 744 479

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *